Kronologis Rangkaian Kecelakaan AirAsia QZ8501

Indonesia AirAsia Penerbangan 8501 (nomor penerbangan: QZ8501/AWQ8501) adalah pesawat Airbus A320 milik Indonesia AirAsia yang dinyatakan menghilang pada saat terbang dari Surabaya, Indonesia menuju Singapura pada tanggal 28 Desember 2014. dengan 155 penumpang dan 7 orang kru di dalam pesawat. Pada 30 Desember 2014, puing-puing pesawat ini telah ditemukan mengapung di Selat Karimata. Lihat juga Daftar Penerbangan Tujuan AirAsia

 

Pesawat ini lepas landas dari Bandar Udara Internasional Juanda pada pukul 05.35 Waktu Indonesia Barat (UTC+7) dan dijadwalkan untuk mendarat pada pukul 08.30 WSS (UTC+8). Pesawat itu berada di bawah kontrol lalu lintas udara Indonesia ketika diminta untuk menyimpang dari jalur penerbangan aslinya karena kondisi cuaca yang buruk. Pilot meminta izin naik ke ketinggian 38,000 feet (11,600 m) untuk menghindari awan tebal kumulonimbus, tetapi ketinggian final yang ditunjukkan transponder dan disimpan oleh Flightradar24 adalah 32,000 ft (9,750 m). Pesawat kehilangan kontak dengan pengatur lalu lintas udara pada pukul 07:24 waktu setempat saat terbang di atas Laut Jawa antara Kalimantan dan Jawa, masih di bawah Kontrol Lalu Lintas Udara Indonesia, pada ketinggian jelajah dan kecepatan normal. Analisis cuaca mengungkapkan bahwa pesawat ini melintasi sebuah sel badai beberapa menit sebelum hilang.

Kementerian Perhubungan Indonesia mengatakan bahwa pesawat yang hilang tersebut tidak mengirimkan sinyal darurat.

 

Pesawat yang terlibat kecelakaan ini adalah Airbus A320-216, dengan nomor seri 3648 dan kode registrasi PK-AXC. Pesawat ini terbang perdana pada tanggal 25 September 2008, dan dikirimkan ke AirAsia tanggal 15 Oktober 2008. Pesawat tersebut terakhir kali menjalani perawatan pada 16 November 2014. Airbus A320-216 milik AirAsia dilengkapi dengan dua mesin CFM International CFM56-5B6 dan dirancang untuk mengangkut 180 penumpang.

AirAsia merilis daftar 162 penumpang dan kru pesawat, di antaranya 144 dewasa, 17 anak-anak, dan satu balita.

Pilot yang berada di dalam pesawat tersebut adalah:

Kapten Iriyanto, berkebangsaan Indonesia, sudah memiliki 20.537 jam terbang dan sekitar 6.100 jam terbang dengan Indonesia AirAsia pesawat Airbus A320.
First Officer Rémi Emmanuel Plesel, berkebangsaan Perancis, sudah memiliki 2.275 jam terbang dengan Indonesia AirAsia.

Setelah insiden itu, dengan segera ada laporan awal yang belum dikonfirmasikan yang menunjukkan bahwa penerbangan AirAsia 8501 jatuh di Pulau Belitung, Indonesia. Operasi pencarian dan penyelamatan telah berlangsung di bawah arahan otoritas penerbangan sipil Indonesia.

Badan SAR Nasional Indonesia mengerahkan tujuh kapal dan dua helikopter untuk menyisir pesisir Belitung dan Kalimantan. Angkatan Laut Indonesia dan Polisi Air dan Udara Indonesia ikut mengirimkan tim pencari dan penyelamat. Selain itu, sebuah pesawat pengintai Boeing 737 milik Angkatan Udara Indonesia diterbangkan ke lokasi terakhir pesawat.

Angkatan Laut Indonesia mengkonfirmasikan bahwa mereka telah mengirimkan empat kapal pada akhir hari pertama pencarian, untuk bergabung dengan upaya pencarian awal. Selanjutnya sebuah pesawat CASA/IPTN CN-235 dari Angkatan Udara Indonesia juga bergabung dalam upaya ini. Pasukan TNI Angkatan Darat juga dikerahkan untuk mencari di pesisir pantai dan pegunungan pulau. Selain kapal pemerintah, nelayan setempat juga ikut dalam pencarian.

Operasi pencarian dan penyelamatan telah berlangsung di bawah bimbingan Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia. Pencarian dihentikan pada jam 19.45 waktu setempat pada 28 Desember karena sudah gelap dan cuaca buruk, yang akan dilanjutkan pada besok hari. Sebuah operasi pusat untuk mengkoordinasikan upaya pencarian didirikan di Pangkal Pinang. Daerah pencarian adalah 270 mil laut radius dekat Pulau Belitung.

Singapore Rescue Coordination Centre (RCC), atas pimpinan Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) dan dukungan dari berbagai lembaga, termasuk Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF), juga mengirimkan sebuah pesawat C-130 Hercules untuk membantu misi pencarian dan penyelamatan. Seorang petugas dari Singapura akan dikerahkan ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia pada operasi pencarian, dan dua lagi pesawat C-130 Hercules akan digunakan untuk hari kedua operasi pencarian dan penyelamatan.

Pemerintah Malaysia telah mendirikan pusat koordinasi penyelamatan di Subang dan mengirimkan tiga kapal militer dan tiga pesawat, termasuk satu C-130 Hercules, untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan.

Australia telah menegerahkan P-3 Orion untuk membantu dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

India telah menyiagakan tiga kapal dan pesawat pengintai maritim untuk membantu operasi pencarian. Angkatan Laut India mengatakan bahwa India telah mengerahkan satu kapal di Teluk Benggala dan dua lagi di Laut Andaman yang disiapkan untuk memberikan bantuan. Kemudian India juga telah menyiapkan sebuah pesawat Boeing P-8I yang disiagakan untuk melakukan pencarian pesawat.

Pada tanggal 29 Desember 2014, Kepala Badan SAR Nasional Bambang Soelistyo mengatakan bahwa pemerintah Indonesia yakin bahwa pesawat AirAsia jatuh di dasar laut, berdasarkan data radar dari kontak terakhir pesawat.

Pada 30 Desember 2014, Badan SAR Nasional (Basarnas) mengkonfirmasi telah menemukan serpihan pesawat AirAsia QZ8501 dan jenazah penumpang. Salah satu jenazah yang ditemukan dalam posisi telungkup mengenakan baju putih celana hitam, sementara 3-4 jenazah berjejeran dan terlihat sedang bergandengan. Temuan ini berpusat di Laut Jawa, dekat dengan Selat Karimata. Kepala Badan SAR Nasional Bambang Soelistyo mengatakan, tim SAR dengan pesawat C295 TNI AU dan Hercules C130 menemukan sejumlah serpihan di Selat Karimata yang dekat dengan Laut Jawa. Serpihan-serpihan itu antara lain ditemukan di titik koordinat 03°46’50” LS, 110°29’27” BT dan 08°50’43” LS, 110°29’21,8″ BT. Salah satu serpihan yang ditemukan adalah lempengan logam dan pintu darurat keluar (emegency exit door), serpihan tersebut sudah dievakuasi ke KRI Bung Tomo.

 

Sumber: Wikipedia

Leave a Reply